Kompas

Jawa Pos

Media Indonesia

Koran Tempo

Republika



Gatra

Femina

Matabaca

Noor

Annida





Jumat, 28 Maret 2008
Dan malam Tinggal Tanda
dan malam tinggal tanda
mengabadikan persetubuhan kita yang liar sempurna

di sudut remang itu:
sepasang puisi saling mengucap
saling membaca

jogjakarta, 2007

Label:

Kusediakan Waktu Yang Panjang Untuk Sebuah Kata
kini tahulah aku
tak usahlah membaca dengan tergesa
pena tubuh sungguh
perlu waktu
demi menulis dirinya di atas bumi

sebuah buku
adalah dunia
yang mesti diselami
sampai lubuk tergelap lautnya
daun terimbun dari rimbanya
belahan langit paling terang
dari setiap malam

halaman demi halaman mengisyaratkan
pengembaraan panjang, teramat panjang
paragraf-paragraf memberikan rumah
demi jiwa yang dahaga akan istirah
setiap kalimat adalah urat nadi
dari jantung bumi
setiap saat, bumi menggemakan denyutnya
sampai kata paling rahasia

segalanya tak selesai di sini
jangan percaya pada rumah;
percayailah pengembaraan
yang akan memberikan
pintu-pintu baru
untukmu

siapa yang melukis itu
siapa yang menuliskan kita
hingga terbaca demikian seksama
hingga tak ada lagi warna
tak ada lagi kata
tersisa
di dasar tubuh
di urat ruh?


jogja, desember 2007

Label:

Pengembara Sesat dan Rumah Tua
aku hidup

pada halaman rumah yang pintunya tertutup
kadang ia setengah membuka
tapi aku selalu ragu jika kau masuk ke dalamnya

padahal sungguh betapa ingin aku menjamu kalian
sedang yang kupunya hanya sedikit kue dan jamuan
betapa tak cukup untuk perut sendiri
“nikmat tak akan habis jika dibagi”
begitu kata seorang sufi

siapa yang sudi membaca buku catatan setengah terbuka
yang tergeletak di meja lapuk itu
aku tak ingin lagi menuliskan sesuatu
dengan airmata kecengengan dan sisa dendam,
nyala dendam yang membuatku selalu padam
patah jadi arang

seperti juga dendam, dusta membuatku ingin berlari jauh
demi mencari jawaban sederhana
tolong, bawalah aku ke jalan yang sebenarnya
sebab gang-gang sempit di depan rumah
tak cukup lagi menampung langkah gelisah

rumah akan membawa kita kemana?
kemana kita akan membawa rumah?
rumah hanya untuk diam
sedang setiap gerak berada di jalan

ah tidak, tanpa rumah yang berdiri dalam ingatan
aku takkan sanggup bertahan di jalanan

tapi, bagaimana kau bisa bertahan di jalan ramai
sedang di gang sempit ini
setiap rambu
tak kau tau

atau ciptakanlah
jalan di dalam rumah
dan sebuah jendela
untuk menekuri orang-orang yang lewat tanpa perlu kau ingat

memang aku selalu berjalan di dua arah
tapi sejak kapan aku terbelah menjadi dua?
yang satu tak henti bersiap di halaman depan
dan satunya lagi tak kunjung bosan bermain di kebun gelap halaman belakang

tapi jalan dalam rumah selalu membuatku tersesat ke tempat sampah
di sudut dapur.
dapur itu, ibu, betapa rentan ia terbakar
sebab aku yang pandir tak pintar menjaga tungku api.

bila suatu saat dapur terbakar
aku akan cepat-cepat berlari ke kamar mandi
dan akan selalu kuingat sebuah pepatah berharga dari masa kanak-kanak:
“hidup adalah petualangan yang panjang”


Jakarta, 11 Maret 2008

Label: