Jumat, 28 Maret 2008
Tentang Perempuan
| "N E I S K A" Perempuan itu ; Semalam dia bersamaku, duduk bercakap di kedai kopi depan rumah sakit Kasut tipis, celana jeans pendek, cardigen kelabu, syal belang hitam putih, Dia cantik... Sebotol vodka membuatnya meracau, muntahkan unek-unek di dalam dadanya Dia baik-baik saja, sepertinya... Ibunya seorang pelacur, pergi Ayahnya seribu lelaki yang tidur dengan ibunya, kala itu... Dia baik-baik saja, sampai saat ini... Tapi dia sakit sejak di rahim ibunya... Perempuan itu ; Apa kabarmu... 15 Februari 2008 Label: Dwi Rastafara |
Tentang Seseorang
| "Penidur" Apakah aku seorang penyair? Yang setiap kata-katanya adalah pedang yang menyayat nadi-nadimu, yang setiap kata-katanya adalah pelor jalang dari pistol Hitler, atau ribuan anak panah yang melesat lepas dari busur Arjuna, merajam jiwamu begitu dalam Bukan..!! Aku hanya ingin sesederhana mungkin, Aku Hanya seorang penidur yang menginginkan de javu dari mimpiku, yang ketika terbangun mendapatimu disini... Jakarta, 10 Februari 2008 Label: Dwi Rastafara |
Petak Tujuh
| Aku senang ada disini, di sudut ruang petak tujuh, di tengah misteri tujuh yang coba membunuhku dengan sepi Aku adalah orang-orang yang pergi, katanya... Bersahabat dengan kesendirian... Sebentar ingin melupakan kau, kalian dan mereka, atau apapun itu yang mengusik imajinasi di otak kecilku Menikmati aroma khas bunga bakoeng dari ladang-ladang Atjeh yang di bawa angin, membuai jiwa yang sedari tadi tak tertidur, lelah melakoni cerita-cerita dari kitab peri-peri langit... Anyer, 09 Februari 2008 Label: Dwi Rastafara |
Senja
| "Senja Anyer" Ombak pulang, pecah menghantam karang, bercerita pada pantai tentang samudera, tentang riuh camar-camar laut yang berebut ikan dengan nelayan Aku berdiri di bawah senja Anyer usai gerimis, menatap pelangi yang mencoreng jingganya hingga jauh ke ujung cakrawala, sendiri... Anyer, 09 Februari 2008 Label: Dwi Rastafara |
Misteri
| "Biar Menjadi Misteri" Sedari tadi langit redup, gerimis tak usai-usainya mengguyur tanah hingga perjalanan sang surya hampir mendekati batas peraduan Benarkah musim telah berubah? Aku masih ingin menikmatinya bercumbu dengan kesendirian, lalu meletakan lelahku di bentang lengan senja Ternyata gemericik gerimis tak bisa membunuh sepiku Ah, biarkan saja tetap seperti ini Aku senang... Ya, aku menikmatinya Angin utara baru berhembus, membawa bulir-bulir gerimis yang semakin deras juga meninggalkan misteri yang ternyata sanggup mengusik kesunyian Benarkah musim telah benar-benar berubah? Hingga hari-hari adalah kenangan padamu yang penuh kisah-kisah; Kisah penuh bunga dari matamu yang teduh, juga misteri yang ditinggalkan angin utara yang tak ingin terungkap... Jakarta, 08 Februari 2008 (Untuk Bintang dari gugus ke enam) Label: Dwi Rastafara |
Fajar Nila
| Aku cuma ingin menjadi seperti angin yang ada dimana saja dan pergi kemana saja, aku cuma ingin bebas sementara waktu tak bisa mengekang, seperti fajar nila yang datang kala hari redup dan senja jingga saat gerimis turun Label: Dwi Rastafara |
Kamis, 14 Februari 2008
| Di Teras Depan Lalu aku hanya terduduk di teras depan memandangi jalan basah oleh hujan yang sebentar datang, sebentar pergi Gitar kayu usang terdengar lirih di antara riuh bocah bermain becek, aku tak keberatan berbagi riuh dengan mereka Di teras depan ku pandangi langit yang seolah seperti samudera, hujan yang turun sesekali deras melembabkan tembok yang penuh dengan tempelan gambar parpol dan iklan, itu pun juga tinggal setengah, setengahnya lagi jadi bungkus kacang rebus, mungkin... Di teras depan ku lihat hujan yang turun sesekali deras, melunturkan warna merah putih dari bendera plastik sisa tujuh belasan, juga layang-layang yang tersangkut di kawat-kawat listrik, kadang yang tersisa hanya arkunya saja... Di teras depan ku rasakan dingin angin dari hujan yang turun sesekali deras, merasakan berbagi riuh dengan bocah-bocah yang bermain di bawah hujan yang sesekali deras... Jakarta, 14 Februari 2008 Dwi Rastafara http://petak-tujuh.blogspot.com Label: Dwi Rastafara |