Kamis, 14 Februari 2008
Di Teras Depan Lalu aku hanya terduduk di teras depan memandangi jalan basah oleh hujan yang sebentar datang, sebentar pergi Gitar kayu usang terdengar lirih di antara riuh bocah bermain becek, aku tak keberatan berbagi riuh dengan mereka Di teras depan ku pandangi langit yang seolah seperti samudera, hujan yang turun sesekali deras melembabkan tembok yang penuh dengan tempelan gambar parpol dan iklan, itu pun juga tinggal setengah, setengahnya lagi jadi bungkus kacang rebus, mungkin... Di teras depan ku lihat hujan yang turun sesekali deras, melunturkan warna merah putih dari bendera plastik sisa tujuh belasan, juga layang-layang yang tersangkut di kawat-kawat listrik, kadang yang tersisa hanya arkunya saja... Di teras depan ku rasakan dingin angin dari hujan yang turun sesekali deras, merasakan berbagi riuh dengan bocah-bocah yang bermain di bawah hujan yang sesekali deras... Jakarta, 14 Februari 2008 Dwi Rastafara http://petak-tujuh.blogspot.com Label: Dwi Rastafara |
posted by danaupuisi at 10.55
