Kompas

Jawa Pos

Media Indonesia

Koran Tempo

Republika



Gatra

Femina

Matabaca

Noor

Annida





Jumat, 28 Maret 2008
Peristiwa Warna Pudar
gelisah ruh dusun berteriak; pulang!
mendaki terjal puncak layar bahtera raja

setelah warna memudar
belum juga kita mengenal masing-masing diri
seluruh pintu terbuka, ruang menganga
benih dingin rapat tertanam
lelap lembu betina menyiang pianggang
sepanjang jalan
dentang ganto, mengayun rindu
sehamparan kusam tilam
ranjang besi tua

kemarau menjadi mimpi yang karib
jejatuhan diri berangkat dari muasal tahun
tahun purba
dan onggok julang pepohon akasia
tetap kugapai sejauh redup cahaya matahari
yang menangisi kematian muda bukit karang
di dada perempuan gembala

bulan terjengkang, datanglah
suara hujan mengurung purnama
ringkuk padat memeras tumpah peluh lelangit
ia benamkan raung sepilu saluang
menyayat tipis sisa-sisa perjamuan malam raya
di petak-petak kamar perantau
sebab kereta
lama sudah tak datang

2007

Label:

Lenguh
lenguh panjang serdadu
memecah maut
malam lalu berseru
semut-semut telungkup
mengadu tubuh

di hulu pekik yang melajang
kutakik janji perawan
si gadis manja
sebab cintaku
hanya berpaling pada kematian

butir-butir darah beku
menggenang seabad paralihan
gigil melesat ke pesawangan
dedaun teh berguguran

di lereng dingin perbukitan
pagi menenggak kopi
bunga desa telanjang mandi
dan kabut menggertak hati

hari terlampau begitu saja
tegar perjaka hanyut
terhempas di kerinduan batu

hirup kencang renungku
aroma lada serta asap tungku
beranjak ke masa lalu

kepenatan menantimu
hitunglah titik peluh
di tiap persimpangan patah
sebab tikam jejak hanyalah perih
tentang ruang
yang baru saja kau tinggalkan

2007

Label:

Jumat, 15 Februari 2008
GEJOLAK LAUT
sepulang zapin menjala senja, ruang langit berubah hening
namun panas darahmu terus memilah puakku?

tinggal saja suka-cita
bagai pertama kau kenal seonggok lupa
kemudian sisa kenangan begitu menyucuk
dendam tiada sudah
orang-orang membangun petak-petak rumah
seruang bangkai buritan
memecah lelah tubuh serentang landai tubir pantai timur

hangat keringat mengantar mimpiku untuk udara laut
tapi, belum juga mereka tersapu ke hulu sungai
barangkali tetua rimba begitu asyik berkecimpung mandi
dan gundik perintang kelam berderai mereka lantakkan

ya, kujeling anyir yang terus saja menguap lewat lingkaran kaca
celetuk doa berlayar menyerbu nganga selat
makna telah ditambatkan pada geliat ombak. tapi kau, nahkoda
pulanglah
belah arus terus saja menguntit risau
pada kedangkalan induk muara
biar saja lapang laut terisi yang berganti lahir
lain ikan tentu lain pula rindunya
begitupun ketololan udang-udang
yang memagut sampah dalam kepala
para hang, sahabatmu
telah pancangkan tiang merdeka di dermaga rawa
telan saja perlahan ngilu yang didera riuh asing peradaban.
angkat sauhmu
lalu, carilah ibu

2007

Label: