Jumat, 28 Maret 2008
Memori Berduri
| sejarah itu kenangan sebatas cahya harapan dibakar api perdebatan kusut ribut merasai tajam duri liar sangar dosa dibalik pahala diasingkan mimpi semua jadi bisu puisi pun membatu sihir sebaris syair irama hati terluka badai salju merayu musim hujan makian jiwa telanjang pilu lusa kau mabuk rindu amsterdam, 22/02/2008 Label: Heri Latief |
Memori Berduri
| sejarah itu kenangan sebatas cahya harapan dibakar api perdebatan kusut ribut merasai tajam duri liar sangar dosa dibalik pahala diasingkan mimpi semua jadi bisu puisi pun membatu sihir sebaris syair irama hati terluka badai salju merayu musim hujan makian jiwa telanjang pilu lusa kau mabuk rindu amsterdam, 22/02/2008 Label: Heri Latief |
Urat Malu
| katakan padaku siapa punya urat malu? lupa sejarah dipalsu susah nian hidupmu terbenam busuk isu derita pilu rakyatmu muram saksi bisu sunyi puisi beku kusut tanpa rindu busuk negerimu nanah sejarahmu katakan padaku dimana belinya urat malu? Amsterdam, 21/01/2008 Label: Heri Latief |
Surat dari Jakarta
| kemiskinan jadi alat untuk ngemis ke imf dan bank dunia ironisnya, 40 milyar dollar dikuasai segelintir elit politik indonesia harga minyak tanah naik ke puncak gunung kecewa harga sembako makin genit selangit hasil bumi indonesia punya siapa? rakyat makin miskin sang pejabat superkaya protes massa dibabat sampai ke akarnya lalu kamu diam aja? pura-pura gak tau apa yang terjadi di bawah? berdoalah agar tak terjadi revolusi demikian bunyi surat dari jakarta amsterdam, 02/01/2008 Label: Heri Latief |
Sabtu, 26 Januari 2008
ZERO TOLERANSI
| di sini aslinya puisi menyendiri! tak pernah ada cumbu rayu lagi bahasa sandi punya napsu birahi melukis mimpi di langit berpelangi Amasterdam, 3 maret 2007 Label: Heri Latief |
KERING
| mengering sudah ilusimu musim dinginya musim dingin diulang dalam gemeretak gigi gilanya musim beku bertanduk! semua mimpi menyedot matahari riwayat puisi dibalik ilusi minimalisnya bertabur kata sunyi, mimpi dan ilusi siapa yang berani mendongeng kisah cinta? tanpa prosa ditanggungnya sajak berpelangi ketika kalian masih memeluk ide sastrawangi menjelmalah puisi-puisi anti penindasan menggema dalam gaungnya kemiskinan pernah dibacanya puisi di sanggar pocis di lorong duapuluh tanjung periok pada protesnya kaum yang termajinalkan menggema dalam gaungnya kepedihan batinya nyala api perlawanan semakin tajam menyayat luka sejarah bangsanya, bernanah! sejarah pertumpahan darah dari masa ke masa ratusan tahun bangsanya dikuasai para maling dan garong metafor kekuasaan nyatanya berubah kulit doang! angka pengangguran memanjat tembok birokrasi siapa yang punya uang punya kekuasaan semua urusan memakai uang tunai bah! kantor pemerintah dipenuhi calo bergaya ambtenaar dan ra'yat miskin semakin dibikin miskin abis-abisan kering sudah mimpi basah! Amsterdam, 24/12/2005 Label: Heri Latief |
BUMI
| sekian milyar mulut mengunyah angin, ribut! Amsterdam, 30/01/2005 Label: Heri Latief |
BALADA SEPIRING NASI TEMPE
| gembel busuk tersuruk dipojokan tembok rumahmu melingkar seperti bangkai ular lapar perutnya menyanyikan lagu lagu perang meninabobokan impian para pecundang terbang terbanglah kemelaratan jika harga sepiring nasi tempe cuma jadi mosaik yang melekat pada ban mobil jaguar sang penguasa sakit hatinya rakyat dibalas dengan tajamnya bayonet menikam segala yang melawan pasrah rela nerima adalah peraturan yang dipropagandakan dari istana kekuasaan dan kamu tiarap ketakutan memeluk nasibmu menjilat pantat demi kekayaan demi harta demi sorga yang dibeli dari hasil memeras keringat mereka yang lelap di trotoar berselimut embun malam Jakarta, 13/06/2003 Label: Heri Latief |
ANAK JALANAN
| perempatan jalan itulah rumahku kucari sisa makanan di jalanan klakson kendaraan jadi musik klasik di hatiku yang keras seperti batu Tuhan! kupunya ilusi yang dingin seperti malam lambang dari semua kesialan dan penindasan tersirat di wajah hidupku yang hitam kelam kau tak kan pernah merasakannya kerna ortumu orkay yang garing banget kau punya pisi berpentium empat, online 24jam kau punya bediende dan kacung yang suka menjilat kau punya semuanya, kaw bisa membelinya ortumu punya ilmu siluman yang canggih hingga bisa membayar segala yang bisa kalian beli sementara kami hanya angka statistik kemiskinan di atas kertas kami cuma djadikan alat yang sangat strategis! buat mengemis sepicis demi sepicis, ironis! bukankah negeri kami kaya akan hasil alam? yang kalian jual obral abis-abisan! yang tersisa hanya hutang dan korupsi disegala bidang dangkal sekali logika bangsaku ini dijualnya harga dirinya seakan kita ini telah bermetafora melakoni peranan pelacur yang sudah gila! yang bersedia menjilat pantat para penguasa dunia mafiadunia yang dipuja para pemimpin kita tak akan membiarkan kita berdirikari dibikinnya kita selalu tergantung pada aturannya mafiadunia jika kita berani keluar dari garis dobel-moral kapitalisme mereka akan ngamuk dan menghajar sang pembangkang kerna mereka selalu ingin punya sapi perahan yang bodohtololbegokatro jangan lupa jek! mereka punya pengalaman sebagai juragan budak, percayalah! jangan kau kira mereka akan menganggapmu sama-sederajat jangan mimpi maypren! hidup ini ada yang dikuasai dan ada yang menguasai ada yang menindas dan ada yang tertindas, oya? yang aku tau adalah lapar haus akan belaian kasih sayang tapi yang kupunya hanya kerasnya aspal jalanan rumahku, di masa lalu dan di masa depan kenyataan, hari ini adalah kenyataan kemelaratan yang sudah jadi kebudayaan.. . amsterdam, gerhanabulan, awal november 2003 Label: Heri Latief |
CHAIRIL ANWAR
| teringat Chairil Anwar planet senen gerbong cinta taklukkan sunyi terbakar sepi pilihan hidupnya penyair sejati rahasia cintanya dibawa mati panas sepanas api puisi Jakarta, 25/04/2003 Label: Heri Latief |
IMPIAN SEMUSIM
| musim panas disana berkabut kucari kehangatan diantara kenangan pada bajaj, metromini dan asap knalpot polusi emosi memeluk dinginnya ilusi sisa kerinduan pada tanah air nya? musim kemarau disini berdebu kucari kesejukan diantara impian semusim simpanlah kepedihan dalam kotak hampa pilihan hidup tak pernah berdusta tapi pernahkah dia meratapi badai? musim dingin pasti datang lagi salju membelai lembut rambutmu basahilah mimpi hausnya memori janji pulang pada siapa menanti tikamlah dendam persis di jantung nafsu! Jakarta, 17 Mei 2003 Label: Heri Latief |
DIA YANG PERGI KE BARAT
| dari timur yang katanya "eksotis" dia pergi mencari dinginnya kesepian dicobanya mengarungi lautan sunyi tersihir gemerlapnya teknologi barat kebebasan dipuja-pujinya setinggi langit dijilatnya es krim berlapis musim dingin beku dirasakanlah manisnya gula sintetis-ironis menyandu pada sexynya liberalisme dipeluknya nafsu marxisme jadilah gado-gado kebanyakan cabe rawit, pedas!terasa diujung lidahnya terbakarlah rindu "ketimurannya" Heri Latief Jakarta, 5 mei 2003 Label: Heri Latief |